Menjadi "Creative Minority" dalam Bingkai Keluarga: Refleksi Peran IKBIM UKSW di Era Disrupsi
Salatiga — Kota kecil yang sejuk di kaki Gunung Merbabu ini menyimpan sebuah keajaiban sosial yang dikenal dengan nama Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW). Di sinilah, ribuan mahasiswa dari Sabang sampai Merauke berkumpul, membawa serta adat, bahasa, dan budaya mereka, membentuk sebuah mozaik indah yang kita sebut sebagai "Indonesia Mini".
Di tengah riuhnya dinamika akademik dan multikulturalisme ini, Ikatan Keluarga Besar Istri dan Mitra (IKBIM) UKSW hadir dengan peran yang unik. Kami bukan sekadar organisasi pendamping. Kami adalah penjaga nilai. Di saat universitas berjuang mempertahankan standar akademis yang kritis dan realistis, IKBIM UKSW bekerja di ranah afektif dan spiritual, memastikan bahwa rumah-rumah civitas akademika menjadi tempat di mana karakter "Satya Wacana" (Setia pada Firman) disemai.
1. Identitas "Indonesia Mini" dalam Tubuh Organisasi
Keunikan IKBIM UKSW terletak pada demografinya yang mencerminkan wajah universitas itu sendiri. Anggota kami terdiri dari ibu-ibu yang berasal dari Tanah Batak, Jawa, Manado, Ambon, Nusa Tenggara, hingga Papua. Perbedaan ini bukan menjadi sekat, melainkan kekayaan. Dalam setiap pertemuan rutin, baik itu arisan maupun ibadah Senin, kita bisa melihat bagaimana toleransi dipraktikkan secara nyata.
Di sini, kami belajar bahwa "bhinneka tunggal ika" bukan sekadar slogan negara, tetapi napas kehidupan sehari-hari. Ketika seorang anggota dari Sumba mengalami kedukaan, anggota dari Toraja dan Jawa datang menghibur dengan tradisi kasih yang universal. Inilah laboratorium sosial yang sesungguhnya, di mana kami mendidik diri sendiri sebelum mendidik anak-anak kami untuk menjadi warga dunia yang inklusif.
2. Transformasi Spiritual dan Intelektual
UKSW memiliki sejarah panjang sebagai institusi yang mengedepankan pemikiran kritis. Semangat ini juga merasuk ke dalam tubuh IKBIM. Kami menolak terjebak dalam rutinitas organisasi kewanitaan yang hanya bersifat seremonial. Sebaliknya, kami mendorong program-program yang menstimulasi intelektualitas dan spiritualitas.
Salah satu program unggulan kami adalah "Bincang Perempuan Satya Wacana". Forum ini bukan sekadar ngerumpi, tetapi membahas isu-isu berat dengan bahasa yang membumi. Kami pernah membahas topik tentang "Teologi Feminisme dalam Konteks Budaya Patriarki Jawa", "Kesehatan Mental Mahasiswa Gen-Z", hingga "Literasi Keuangan Digital untuk Mengelola Aset Keluarga".
Kami percaya bahwa istri dan mitra pendidik haruslah seorang pembelajar seumur hidup (*lifelong learner*). Jika suami kami di kampus sibuk meneliti jurnal internasional, maka kami di rumah harus mampu menjadi mitra diskusi yang sepadan, atau setidaknya memahami urgensi dari ilmu pengetahuan yang sedang diperjuangkan.
3. Misi Pelayanan di Kota Toleransi
Salatiga berulang kali dinobatkan sebagai salah satu Kota Paling Toleran di Indonesia. IKBIM UKSW merasa memiliki tanggung jawab moral untuk mempertahankan predikat tersebut. Pelayanan kami melintasi batas tembok kampus. Kami menjalin hubungan baik dengan organisasi wanita lintas agama di Salatiga.
Setiap bulan Ramadhan, misalnya, IKBIM UKSW rutin berpartisipasi dalam pembagian takjil gratis atau bakti sosial bersama ibu-ibu PKK dan organisasi muslimat setempat. Sebaliknya, saat Natal tiba, kami merasakan hangatnya ucapan dan bantuan dari tetangga lintas iman. Ini adalah bentuk kesaksian hidup yang sunyi namun berdampak kuat. Kami ingin menunjukkan bahwa kasih Kristus itu inklusif, merangkul, dan tidak membeda-bedakan.
4. Digitalisasi dan Tantangan Masa Depan
Memasuki tahun 2026, UKSW sedang gencar melakukan transformasi digital menuju *World Class University*. IKBIM UKSW tidak mau ketinggalan. Peluncuran situs ikbimuksw.com ini adalah langkah awal dari grand design kami untuk membangun "Smart Organization".
Kami sedang mengembangkan database anggota berbasis *cloud* yang memungkinkan kami memetakan potensi keahlian para anggota. Ada anggota yang ahli memasak, menjahit, menulis, hingga coding. Melalui platform digital ini, kami ingin menciptakan *marketplace* internal yang memberdayakan ekonomi keluarga tanpa harus meninggalkan kewajiban utama.
Selain itu, kami menyadari bahwa tantangan terbesar keluarga saat ini adalah disrupsi teknologi. Anak-anak kita hidup di dua dunia: dunia nyata dan dunia maya (metaverse). IKBIM UKSW berkomitmen untuk menjadi garda terdepan dalam edukasi *Cyber-Parenting*. Kami ingin memastikan bahwa teknologi menjadi hamba yang melayani kemajuan keluarga, bukan tuan yang memperbudak waktu dan perhatian kita.
5. Undangan untuk Bergabung dan Berkarya
Artikel ini bukan sekadar laporan pertanggungjawaban, melainkan sebuah undangan terbuka. Kepada seluruh istri dosen, istri tenaga kependidikan, dan staf perempuan di lingkungan UKSW yang belum bergabung, pintu IKBIM selalu terbuka lebar.
Mari kita jadikan wadah ini sebagai tempat untuk saling menopang (saling menanggung beban), saling mengasah (menajamkan pikiran), dan saling mengasihi. Di IKBIM UKSW, pangkat dan jabatan suami ditinggalkan di depan pintu. Di dalam ruangan ini, kita semua setara sebagai perempuan yang dikasihi Tuhan, yang memiliki kerinduan yang sama: melihat UKSW terus jaya dan menjadi berkat bagi Nusantara.
Biarlah semangat "Takut akan Tuhan adalah Permulaan Pengetahuan" tidak hanya tertulis di logo universitas, tetapi terukir dalam setiap detak jantung keluarga-keluarga kita.
Salam Satya Wacana!
Ditulis dan disunting oleh Tim Redaksi IKBIM UKSW.
Referensi Sejarah: Buku "Sejarah UKSW: Mimpi dan Realitas" & Dokumen AD/ART IKBIM.